Senin, 13 Juli 2026 adalah Hari pertama masuk sekolah selalu membawa cerita baru.
Ada wajah-wajah kecil yang penuhRagam postingan orang tua murid meramaikan beranda media sosial, Story Whatsapp, Facebook, Instagram. Doa mengiringi kebahagiaan melihat tiap langkah anak-anaknya memasuki halaman sekolah.
semangat mengenakan seragam untuk pertama kalinya, ada pula siswa yang melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan harapan dan impian baru.
Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menemukan teman, membangun karakter, dan belajar hidup berdampingan dengan orang lain.
Namun, di balik semangat itu, ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian semua pihak, yakni ancaman perundungan atau bullying.
Masa-masa awal sekolah merupakan fase adaptasi yang sangat menentukan. Seorang anak sedang berusaha mengenal lingkungan, memahami karakter teman, menyesuaikan diri dengan guru, dan mencari tempat agar dirinya diterima. Pada fase inilah rasa percaya diri anak bisa tumbuh, tetapi pada saat yang sama juga bisa runtuh apabila mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya.
Seperti contohnya, Di Kabupaten Bombana, beberapa aduan diterima oleh UPTD PPA setempat adalah kekerasan dilingkungan sekolah. sesama murid saling ganggu, saling membuli hingga berujung keluar dari sekolah.
Bullying sering kali dimulai dari candaan yang dianggap biasa. Ejekan terhadap fisik, nama orang tua, kondisi ekonomi, warna kulit, cara berbicara, hingga kebiasaan sehari-hari perlahan dapat berubah menjadi tindakan yang melukai. Korban bukan hanya merasa malu, tetapi juga kehilangan keberanian untuk bergaul, takut datang ke sekolah, bahkan kehilangan semangat belajar.
Karena itu, guru memiliki peran penting untuk memastikan tidak ada ruang bagi perundungan di lingkungan sekolah. Pengawasan tidak hanya dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung, tetapi juga ketika jam istirahat, di halaman sekolah, maupun dalam aktivitas kelompok. Guru harus mampu menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk bercerita tanpa rasa takut.
Di sisi lain, orang tua juga tidak boleh melepas seluruh tanggung jawab kepada sekolah. Pendidikan karakter dimulai dari rumah. Anak perlu diajarkan menghormati perbedaan, tidak merendahkan orang lain, serta memiliki keberanian untuk menolong teman yang menjadi korban bullying. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menjadi kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan sekolah.
Teman sebaya pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Menjadi saksi lalu memilih diam sama saja dengan membiarkan perundungan terus terjadi. Keberanian untuk mengingatkan, melerai, atau melaporkan kepada guru merupakan bentuk kepedulian yang dapat menyelamatkan masa depan seseorang.
Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi sekolah yang mampu menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan bebas dari rasa takut. Sebab, anak akan lebih mudah berkembang ketika mereka merasa dihargai, diterima, dan dilindungi.
Tahun ajaran baru harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah bullying sejak dini.
Mari ciptakan budaya saling menghormati, saling menguatkan, dan saling menjaga. Karena setiap anak datang ke sekolah dengan mimpi yang besar. Jangan biarkan mimpi itu hancur hanya karena perundungan yang sebenarnya bisa dicegah sejak hari pertama.
Penulis : Hir Abrianto
Anggota Forum PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Bombana.








