Labbaikallahummalabbaik, Perjalanan Ibadah Umrah Bersama Lianti Tour & Travel

Riwayatku, Awal tahun 2026 menjadi momen tak terlupakan bagi sebuah keluarga sederhana yang mendapat panggilan suci ke Tanah Haram.

Kalimat talbiah, “Labbaikallahumma labbaik…”, menggema di hati, mengiringi langkah menuju perjalanan ibadah yang bukan hanya fisik, tetapi juga perjalanan hati dan jiwa.

Perjalanan Umrah yang pertam kali ini terasa sangat istimewa. Sebuah hadiah tak terduga datang ketika sang istri mendapatkan paket Umrah dari tempatnya bekerja, Asia Baru, toko kue dengan tagline “Asia Baru, Pilihan Setiap Suasana.” Sebuah keberkahan di awal tahun yang tak pernah direncanakan sebelumnya.

Dengan tekad dan tabungan seadanya, kami memutuskan untuk turut berangkat bersama. Niat sederhana untuk beribadah langsung di tanah para Nabi dan Rasul, di hadapan Baitullah, akhirnya menjadi kenyataan yang menggetarkan hati.

Bacaan Lainnya

Selasa, 3 Februari 2026 pukul 07.15 pagi, keduanya berangkat dari rumah mengenakan setelan muslim bertuliskan Lianti Tour & Travel. Tiba di Bandara Udara Kendari, suasana haru bercampur bahagia menyelimuti. Tim dan karyawan Asia Baru sudah menunggu untuk dokumentasi dan swafoto, mengabadikan momen awal perjalanan spiritual tersebut.

Setelah proses check-in, rombongan kecil calon jamaah pun bertolak menuju Surabaya. Di kota inilah perjalanan sesungguhnya dimulai. Sebanyak 18 jamaah dari berbagai daerah bergabung, mempertemukan wajah-wajah baru dalam satu tujuan suci.

Sebelas jam perjalanan udara dari Surabaya menuju Jeddah, Arab Saudi, menjadi pengalaman panjang yang diisi dengan tiga kali waktu shalat di atas awan. Setibanya di sana, udara dingin kota metropolitan yang dikelilingi hamparan padang pasir menyambut rombongan dengan kesan pertama yang tak terlupakan.

Perjalanan darat dari Jeddah menuju Madinah menggunakan bus menghadirkan sensasi tersendiri. Akselerasi dan pengereman sopir yang mendadak sempat membuat jantung berdegup lebih kencang. Namun, itulah dinamika perjalanan di negeri gurun pasir itu.

Lampu-lampu kota berkilau di malam hari. Tulisan Arab tanpa harakat terpampang di papan-papan nama, menjadi pemandangan asing namun indah. Bibir tak henti melafalkan tasbih, memuji kebesaran Allah di sepanjang perjalanan sambil mendengar bimbingan ritual dari ustad Ahmad.

Setibanya di hotel di Kota Madinah, suasana kota tetap hidup meski waktu menunjukkan jelang subuh. Gedung-gedung tinggi mengapit jalan poros yang tak pernah sepi. Para pedagang masih menjajakan makanan ringan dengan harga 3–5 riyal, menambah warna kehidupan kota Nabi.

Shalat Subuh pertama di Masjid Nabawi menjadi momen yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Udara dingin menembus pakaian, membuat tangan dan kaki hampir keram. Saat azan berkumandang, air mata jatuh tanpa terasa , sebuah rasa syukur karena Allah memberi kesempatan yang diimpikan jutaan umat Islam di seluruh dunia.

Tiga hari di Madinah terasa begitu singkat namun penuh makna. Suasana kota yang tenang membuat ibadah semakin khusyuk. Setiap langkah menuju masjid terasa ringan, seakan hati sudah menemukan rumahnya.

Dengan bimbingan Ustad Samian dan Ustad Ahmad dari Lianti Tour & Travel, jamaah diajak mengunjungi berbagai lokasi bersejarah, seperti Masjid Quba dan Jabal Uhud. Kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat terasa hidup di setiap tempat yang dikunjungi.

Kesempatan untuk shalat di Raudhah, di dekat makam Rasulullah SAW, menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Pelayanan dan bimbingan Lianti Tour membuat setiap prosesi ibadah terasa tertata, nyaman, dan penuh makna.

Memasuki hari keempat, rombongan bertolak ke Mekkah. Kota suci yang menjadi pusat kerinduan umat Islam. Tiba pukul 21.00 waktu setempat, jamaah beristirahat sejenak sebelum melaksanakan Umrah pada pukul 00.00 dini hari.

Langkah pertama memasuki Masjidil Haram membuat jantung berdegup kencang. Ketika pandangan akhirnya tertuju pada Ka’bah, lidah kelu, air mata mengalir. Rasa malu, takut, dan harap bercampur menjadi satu.

Di tengah lautan manusia yang bertawaf dan sa’i, setiap doa dipanjatkan dengan penuh kesadaran diri. Seolah seluruh kesalahan masa lalu diputar kembali di benak, memohon ampunan dan keberkahan.

Hari-hari berikutnya di Mekkah terasa begitu akrab. Masjidil Haram seperti menyatu dengan jiwa. Teriakan petugas keamanan yang awalnya terasa tegas, lama-kelamaan justru menjadi bagian dari kenangan yang dirindukan.

Air zam-zam tersedia melimpah di setiap sudut masjid. Jamaah juga diajak mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah seperti Jabal Nur dan Jabal Rahmah. Setiap tempat menyimpan jejak sejarah perjuangan Islam yang menggetarkan hati.

Pelayanan Lianti Tour & Travel patut diapresiasi. Mulai dari akomodasi hotel yang nyaman, konsumsi tiga kali sehari, hingga pendampingan ibadah yang hangat dan kekeluargaan. Para pembimbing bukan sekadar pendamping, tetapi menjadi keluarga selama di Tanah Suci.

Puncak haru terjadi saat tawaf wada’ pada 14 Februari. Di putaran ketujuh, jamaah berjuang mendekat dan menyentuh dinding Ka’bah di tengah desakan.

Alhamdulillah, doa terpanjatkan. Namun usai shalat sunnah, syal atribut Lianti Tour & Travel terlepas dan tertinggal di pelataran Kab’bah—bersama sepasang sandal jamaah lain. Syal itu mungkin hilang, tetapi kenangan dan rasa syukur tak akan pernah pudar. Terima kasih Lianti Tour & Travel, telah menjadi bagian dari perjalanan suci yang tak terlupakan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *