BOMBANANEWS.COM – Keluhan warga terkait kondisi Jembatan Teomokole yang membentang di atas Sungai Lakambula, Kelurahan Teomokole, Kecamatan Kabaena, akhirnya mendapat tanggapan dari Wakil Bupati Bombana, Ahmad Yani.
Ahmad Yani mengakui kondisi jembatan tersebut memang memerlukan perbaikan. Namun, menurutnya, kerusakan yang terjadi belum membutuhkan penanganan besar karena lantai jembatan terbuat dari kayu.
“Saya sudah lihat kondisinya, memang perlu diperbaiki. Tapi itu hanya butuh kayu, karena lantainya adalah kayu. Jadi itu akan digotongroyongkan, sudah ada juga yang siap pengadaan kayunya,” kata Ahmad Yani.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum tersedia anggaran khusus untuk perbaikan jembatan tersebut.
“Untuk anggaran, memang belum ada khusus perbaikan jembatan yang membentang di atas Sungai Lakambula itu,” ujarnya.
Diketahui, Jembatan Teomokole merupakan jalur penghubung utama empat desa di Kecamatan Kabaena Selatan, yakni Desa Langkema, Batuawu, Puununu, dan Pongklaero. Keberadaan jembatan ini sangat vital bagi mobilitas masyarakat, baik untuk aktivitas ekonomi maupun sosial.
Sebelumnya, kondisi jembatan ini ramai disorot di media sosial setelah diunggah oleh Sahrul melalui akun pribadinya. Dalam unggahannya, ia memperlihatkan kerusakan papan jembatan serta minimnya fasilitas pendukung, terutama lampu penerangan.
“Ini kali saya mau sampaikan kondisi jembatan yang terletak di Kelurahan Teomokole. Jembatan ini membelah Sungai Lakambula, ada syair lagu Kabaena yang menyebut sungai dan tempat ini, namun kondisi jembatannya seperti ini,” tulis Sahrul.
Ia juga mempertanyakan aspek keselamatan pengguna jembatan, khususnya pada malam hari.
“Setahuku di jembatan ini tidak ada lampu penerang. Entah bagaimana jadinya kalau ada yang dari wilayah selatan Kabaena mau menyeberang malam dan tidak ada lampu motornya. Apakah menunggu ada korban dulu atau diviralkan baru diperbaiki?” lanjutnya.
Menurut Sahrul, jembatan tersebut tidak hanya digunakan oleh masyarakat umum, tetapi juga dimanfaatkan oleh sedikitnya lima perusahaan tambang untuk mobilisasi karyawan dan logistik.
Pada unggahan lainnya, mantan Ketua Hippelwana itu mengungkapkan bahwa persoalan jembatan Teomokole sebenarnya telah lama disampaikan kepada dinas terkait. Bahkan, generasi muda Kelurahan Teomokole disebut pernah melaporkan kondisi jembatan sejak tahun lalu, namun tidak mendapat respons.
“Akhirnya mereka berinisiatif patungan membeli papan dan memperbaiki sendiri. Harapannya tahun ini ada anggaran penggantian seluruh papan jembatan, tapi sampai kondisi berlubang kembali, tidak ada tanggapan,” tulisnya.
Sahrul juga menawarkan solusi alternatif apabila pemerintah daerah terkendala anggaran. Ia menyarankan agar pemerintah berkomunikasi dengan pihak perusahaan yang beroperasi di Kabaena Selatan.
“Kalau pemerintah beralasan tidak ada anggaran di APBD 2026, mungkin bisa dikomunikasikan ke pihak perusahaan agar berkontribusi, misalnya menyediakan kayu besi dari wilayah IUP masing-masing dan memerintahkan karyawannya bergotong royong,” katanya.












