BOMBANANEWS.COM – Hingga bulan Maret 2026, Perum Bulog Cabang Bombana berhasil menyerap 3.200 ton gabah dari petani di wilayah Kabupaten Bombana dan Kabupaten Konawe Selatan.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan memperkuat cadangan pangan di daerah.
Kepala Bulog Bombana, Abdan, menjelaskan bahwa serapan gabah tahun ini mengacu pada kebijakan pemerintah melalui Instruksi Presiden (Inpres) dengan standar harga sebesar Rp6.500/kg
“Untuk wilayah Bombana dan Konawe Selatan, total yang sudah terserap hingga Maret mencapai 3.200 ton,” jelasnya.
Ia merinci, dari total tersebut sebanyak 1.400 ton berasal dari Kabupaten Bombana, sementara sisanya diserap dari wilayah Kabupaten Konawe Selatan.
“Untuk Bombana sebanyak 1.400 ton dan selebihnya dari Konawe Selatan. Ini hasil kerja sama yang terus kami optimalkan,” ujarnya.
Dalam mendukung percepatan serapan, Bulog Bombana juga menggandeng 15 titik penggilingan padi yang telah bermitra secara resmi. Kemitraan ini dinilai efektif dalam menyerap gabah petani secara masif, khususnya pada masa panen yang berlangsung di wilayah Bombana dan Konawe Selatan.
Selain itu, kapasitas gudang yang dimiliki Bulog Bombana dinilai memadai untuk menampung gabah dalam jumlah besar.
Abdan memastikan, proses pembelian gabah dari petani juga didukung dengan ketersediaan anggaran yang cukup sehingga penyerapan dapat berjalan optimal tanpa kendala pembayaran.
“Dari sisi anggaran aman, gudang juga siap menampung. Jadi kami pastikan pembelian gabah petani berjalan maksimal,” tegas Abdan.
Dalam pelaksanaannya, Bulog Bombana turut berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Bombana dan Konawe Selatan, para penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta mendapat pendampingan dari unsur TNI dan Polri. Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan informasi panen tersampaikan dengan baik dan proses serapan berjalan lancar.
Meski demikian, Abdan mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama terkait kualitas gabah dan potensi serangan hama yang dapat memengaruhi hasil panen.
“Tantangan kita pada kualitas gabah yang rentan hama. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan penyuluh untuk memberikan edukasi kepada petani agar kualitas hasil panen tetap terjaga,” pungkasnya











