Bilangari, Motode Hitungan Waktu Suku Moronene Dapat Sertifikat WBTB Indonesia

Bilangari, Motode Hitungan Waktu Suku Moronene Dapat Sertifikat WBTB Indonesia

BOMBANANEWS.COM, BUDAYA – Suku Moronene, salah satu masyarakat adat di Sulawesi Tenggara, dikenal karena kearifan lokalnya dalam mengelola sumber daya alam, khususnya pertanian. Salah satu tradisi yang menjadi identitas mereka adalah bilanggari, metode perhitungan waktu berdasarkan hari dan bulan yang dipakai untuk berbagai keperluan hidup. Tradisi ini kini mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 17 November 2025 yang ditandatangani langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Fadli Zon, S.S.,M.Sc.

Bilanggari memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Moronene. Tradisi ini digunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam membuka lahan pertanian, melangsungkan pernikahan, hingga melakukan berbagai kegiatan penting lainnya. Penentuan hari baik ini dipercayai membawa keselamatan, keberhasilan, dan kenyamanan. Orang-orang yang memahami bilanggari, seperti para tokoh adat atau maestro, menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam mengambil keputusan penting.

Asal-usul bilanggari bermula dari upaya nenek moyang suku Moronene dalam memahami kejadian alam seperti bencana atau peristiwa yang tidak biasa. Mereka mencatat pola-pola tertentu berdasarkan pergerakan bulan di langit, sehingga menciptakan sistem perhitungan bulan yang dapat dijadikan pedoman. Sistem ini berkembang menjadi kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun hingga kini, namun kondisinya terancam punah.

Bacaan Lainnya

Masyarakat di Desa Taubonto, Kabupaten Bombana, yang mayoritasnya suku Moronene, masih mempraktikkan bilanggari dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal bercocok tanam, misalnya, masyarakat mengandalkan tokoh adat untuk menentukan waktu tanam yang tepat. Begitu pula untuk acara pernikahan, bepergian, atau mencari barang yang hilang, bilanggari tetap menjadi panduan penting.

Untuk melestarikan tradisi ini, Pemerintah Kabupaten Bombana melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan aktif melakukan pembinaan kepada generasi muda. Program ini melibatkan para maestro bilanggari, seperti Syarmin Rantu, untuk mengajarkan teknik perhitungan bilanggari berdasarkan bulan di langit. Diharapkan, upaya ini dapat menjaga eksistensi bilanggari dan mencegahnya dari kepunahan.

Meski begitu, tantangan pelestarian bilanggari tidaklah ringan. Generasi muda cenderung kurang menyadari pentingnya tradisi ini. Mereka lebih sering bergantung pada tokoh adat daripada belajar langsung. Selain itu, beberapa maestro bilanggari enggan membuka pengetahuan mereka, sehingga transfer ilmu menjadi terhambat. Hal ini berpotensi memengaruhi keberlanjutan tradisi bilanggari di masa depan.

Bilanggari diyakini tidak hanya sebagai panduan teknis, tetapi juga sebagai cara masyarakat Moronene menjaga hubungan harmonis dengan alam dan kehidupan sosial. Sistem ini membantu mereka memahami kejadian-kejadian yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, tetapi terbukti akurat jika perhitungannya dilakukan dengan benar.

Sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia, bilanggari diharapkan dapat terus dilestarikan. Penggunaannya yang mencakup berbagai aspek kehidupan—mulai dari pertanian, perjalanan, hingga memecahkan masalah sehari-hari—membuktikan relevansi tradisi ini. Dengan adanya perhatian dari pemerintah dan keterlibatan generasi muda, bilanggari dapat terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Moronene.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar