Gola Ni’i, Kuliner Khas Kabaena Diakui Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Dokumentasi Gola Ni'i dan Sertifikat WBTB dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Desai Gambar : Bombananews

BOMBANANEWS.COM, BERITA BUDAYA – Pulau Kabaena, yang terletak di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya berupa gugusan pulau-pulau kecil dan pantai yang memukau. Pulau ini juga kaya akan budaya, termasuk kuliner tradisional yang menjadi ciri khas daerahnya. Salah satu kuliner legendaris yang telah menjadi identitas masyarakat Kabaena adalah Gola Ni’i, atau yang dikenal sebagai gula kelapa. Kini, kuliner ini diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bombana pada tahun 2024.

“Alhamdulillah Gola Ni’i dan Bilangari Telah mendapat sertifikat dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2024, yakni Tanggal 16 November Tahun 2024,” Ucap Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bombana, Irma Safriani, S.Pi,.M.Pi saat ditemui diruangnya beberapa waktu lalu.

Gola Ni’i memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat suku Moronene, yang merupakan penduduk asli Kabaena. Berdasarkan yang dikutip dalam naskah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bombana tentang Gola Ni’i dijelaskan bahwa, sejak tahun 1930, masyarakat Moronene mulai mengolah hasil panen kelapa mereka menjadi kuliner khas untuk dijadikan oleh-oleh bagi keluarga atau tamu yang berkunjung. Tradisi ini terus dilestarikan hingga kini, menjadikan Gola Ni’i sebagai salah satu produk unggulan daerah.

Gola Ni’i dikenal sebagai makanan tradisional yang bahan utamanya berasal dari hasil bumi lokal, seperti gula merah, kelapa, dan beras ketan. Pembuatannya membutuhkan keahlian khusus untuk menghasilkan rasa yang manis, gurih, dan tekstur yang kenyal.

Bacaan Lainnya

Proses pengolahannya juga cukup rumit, dimulai dari memanaskan gula merah cair, mencampurkan parutan kelapa, menambahkan air kelapa murni, hingga mencampurkan beras ketan yang sudah dimasak. Selama proses ini, adonan harus diaduk terus-menerus dengan intensitas api yang tepat.

Salah satu hal unik dari pembuatan Gola Ni’i adalah pengadukan adonan yang membutuhkan minimal dua orang. Hal ini dikarenakan adonan memiliki berat yang signifikan, terutama saat hampir matang. Ketelitian dan kerja sama antara pembuat sangat penting untuk memastikan adonan tercampur sempurna. Setelah matang, adonan dibentuk menjadi bola-bola kecil, didinginkan, lalu dikemas menggunakan kulit jagung dan diikat dengan tali tradisional.

Gola Ni’i tidak hanya menjadi favorit masyarakat Kabaena, tetapi juga telah menyebar ke berbagai daerah di Sulawesi Tenggara, seperti Kota Baubau dan Kendari. Bahkan, makanan ini mulai dikenal di Pulau Jawa sebagai oleh-oleh khas Bombana. Keunikan kemasannya yang praktis, ukurannya yang kecil seperti bola pingpong, serta daya tahannya yang cukup lama—hingga satu bulan jika disimpan dengan baik—menjadikannya pilihan oleh-oleh yang ideal.

Selain keunikan rasanya, Gola Ni’i juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Makanan ini menjadi simbol kearifan lokal dan warisan turun-temurun masyarakat Kabaena. Dengan cita rasa manis dan gurih dari gula aren asli, kelapa segar, dan beras ketan, Gola Ni’i tidak hanya menjadi cemilan tetapi juga cerita tentang tradisi dan keakraban.

Pemerintah Kabupaten Bombana melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kini mendapat pengakuan resmi Gola Ni’i sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2024. Langkah ini merupakan bagian dari pelestarian budaya sekaligus upaya memperkenalkan kuliner khas Kabaena kepada dunia yang lebih luas.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bombana, mencicipi Gola Ni’i adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Selain memanjakan lidah, membawa Gola Ni’i sebagai oleh-oleh juga berarti ikut melestarikan warisan budaya lokal. Dengan terus meningkatnya popularitas dan distribusinya, Gola Ni’i memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu ikon kuliner Sulawesi Tenggara.

Pengakuan Gola Ni’i sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Kabaena. Tidak hanya meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap budaya lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengembangan usaha kecil yang memproduksi kuliner tradisional ini.

Pos terkait